Tak sanggup jika tinggal satu atap dengan mertua

Tak Sanggup Jika Tinggal Satu Atap dengan Mertua, Aku dan Suami Memilih Merantau

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku baru bertemu mertua H-1 sebelum aku dilamar. Mertuaku petani di Jawa Tengah, setiap hari pergi ke sawah dan mengurus ternak sapi. Kampung halaman suamiku jauh sekali dari perkotaan, desa yang sepi dan dihuni hanya oleh sekitar 40 kepala keluarga. 

Tinggal satu atap bersama mertua bukan perkara mudah. Setahun setelah menikah, tidak ada masalah sama sekali karena setahuku mertuaku tidak banyak bicara, tidak ikut campur, baik, dan tidak banyak menuntut. Namun semua permasalahan dimulai ketika aku hendak melahirkan, ketika mertuaku melarangku menempuh cara operasi Caesar. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku juga ingin melahirkan secara normal, tapi kalau dokter menyarankan Caesar, aku bisa apa?

Tahun kedua, ibu mertua melarangku bekerja. Katanya, apakah gaji suamiku kurang? Sakit hatiku mendengarnya. Aku hanya bisa diam. Suamikua yang selalu menjawab jika mertuaku bicara hal yang menyakiti hati. Dia membelaku, tapi tidak pernah menyalahkan ibunya juga. Suamiku selalu bisa menjadi penengah antara aku dan orangtuanya. Suamiku begitu pengertian dan bijak.

Masuk tahun ke-4 dan aku baru saja melahirkan lagi ibu mertuaku bilang agar jangan sampai anakku minum susu formula. ASI saja biar tidak boros, katanya. Sungguh, aku kesal mendengarnya. Mungkin masukannya baik, tapi mertua bicara di saat yang kurang tepat. Anakku minum susu formula atas kemauan suamiku juga karena ASI-ku tidak lancar. 

Baca Juga: Peran Keluarga bagi Kehidupan

Karena sudah beberapa kali mendengar omongkan yang kurang enak, aku mulai menjaga jarak untuk menghindari konflik. Aku dan suami merantau ke Jakarta, pulang sebulan sekali. Di rumah mertua aku lebih banyak berdiam di kamar, bicara seperlunya.  Tiap kali mertuaku video call dengan suami, aku menyibukan diri. Masih banyak omongan mertuaku yang sebenarnya menyakitkan, entah itu masalah uang, anak, jalan-jalan, dan menuntut hal-hal lain. Tapi karena aku dan suami tidak bertemu setiap hari, konflik menjadi berkurang dan hubungan kami sampai saat ini masih baik-baik saja karena menjaga jarak. 

Jika belum mampu membeli rumah, lebih baik mengontrak saja. Sebaik-baiknya mertua, tetap saja ada rasa canggung. Dan biar bagaimana pun, aku tetap menghargai ibu mertuaku. Sebelum menikah, bicarakan dulu mau tinggal di mana. Sebaiknya tidak tinggal dengan mertua untuk menghindari konflik dan menjaga hubungan baik satu sama lain. Jika tidak tinggal satu atap dengan mertua, kamu dan pasangan juga menjadi lebih mandiri, bertanggungjawab untuk mengurus rumah dan urusan lainnya berdua saja.

Sumber: Dian, nama disamarkan, 28 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu