Tentang Siapa yang Seharusnya Memutuskan

Tentang Siapa yang Seharusnya Memutuskan

Kewanitaan

Usia saya 22 tahun, saya anak tunggal. Dibesarkan di keluarga sederhana saya tumbuh menjadi perempuan mandiri. Semasa SMA saya sangat ingin kuliah sambil bekerja agar tidak perlu lebih menyusahkan orangtua. Ketika saya hendak menempuh ujian orangtua saya tidak mampu membayar hingga akhirnya saya sendiri mengurus kartu ujian, minta tambahan waktu untuk membayar agar tetap bisa mengikuti UTS.

Ketika saya lulus orangtua saya menyarankan untuk kuliah saja terlebih dahulu. Tapi saya menolak. Bukan karena tidak ada niat, tapi saya ingin menghasilkan uang sendiri, hasil jerih payah saya sendiri. Orangtua saya merasa gengsi kalau anaknya tidak kuliah seperti anak tetangga, ada yang sampai jenjang S2. Mungkin mereka malu kalau ditanya apakah saya kuliah atau tidak.

Namun saya tetap pada pendirian tidak ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Saya tak begitu mempedulikan omongan tetangga, karena saya pikir masing-masing orang sukses dengan cara dan waktu yang berbeda-beda. Saya bertengkar dengan orangtua hanya untuk memutuskan saya harus kuliah saja atau bekerja. 

Orangtua saya menyerah. Pilihan yang saya ambil ini memang tidak mudah. Saya tahu risikonya jika saya memutuskan untuk bekerja dulu dan menunda kuliah. 

Setelah 3 tahun bekerja dan berhasil mengumpulkan uang saya kuliah dengan uang sendiri. Kuliah sambil bekerja, impian saya terwujud. Keputusan yang saya ambil tersebut sepenuhnya tanggung jawab saya. Memang tidak mudah, pulang kerja saya langsung kuliah, lelah terasa sewaktu harus belajar di malam hari. Tapi ini pilihan saya, keputusan saya, apapun risikonya harus saya terima. 

Sampai semester 2 datang pandemi. Keuangan saya menjadi tidak stabil, gaji dipotong lumayan besar. Biaya kuliah yang cukup mahal membuat saya berpikir apakah saya harus memaksakan diri untuk lanjut sekolah atau berhenti. Selain minta pendapat teman-teman saya juga berbicara pada orangtua saya. Tentu saja mereka menyalahkan saya atas keputusan yang saya ambil. Beberapa teman pun sampai ada yang bertanya apakah saya tidak malu seandainya tidak lanjut kuliah. Kuliah dan bekerja adalah keinginan saya. Kenapa saya harus bergantung pada pendapat mereka. Saya yang menjalankan dan sepenuhnya semua menjadi tanggungjawab saya. 

Sekarang saya berhenti kuliah, dan tetap bekerja dengan harapan dapat mengumpulkan uang lagi. Tak lama saya mendengar kabar dari teman kampus bahwa biaya kuliah bertambah mahal. Andaikan saya waktu itu memutuskan untuk tetap kuliah karena gengsi belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Bisa saja putus di pertengahan semester dan tentu biaya yang sudah saya keluarkan lebih banyak. 

Saya tak menyesali keputusan saya. Saya memfokuskan diri pada pekerjaan dan masih mengumpulkan uang untuk tetap kuliah. Karena apapun itu, kita sendiri yang bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang kita jalani, bukan orang lain. (*)

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu