Terburu-buru Menikah di Usia Muda, Kami Bercerai karena Masih Mementingkan Ego

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku single mom dengan 2 anak. Pernikahanku hanya mampu bertahan 7 tahun. Ketika menikah, aku masih berusia 20 tahun sedangkan suami 28 tahun. Saat aku SMA aku sudah berpacaran dengannya selama 3 tahun. Bukan waktu yang sebentar, bukan? Namun, sikapnya sesungguhnya baru terlihat sesudah kami menikah.

Aku bertemu dengannya melalui medsos. Kami sama-sama berprofesi sebagai illustrator. Hobi kami sama. Aku merasa nyaman dengannya, begitupun dia. Kami merasa cocok satu sama lain hingga akhirnya berpacaran. Aku mengenalnya sebagai sosok yang sangat sopan. Dia juga selalu memperlakukan kedua orangtuaku dengan baik. Tak lama setelah aku lulus SMA dan baru saja bekerja, dia mengajakku untuk menikah karena usianya yang sudah cukup dan orangtuanya menyuruhnya agar segera menikah saja. Begitupun ibuku, karena khawatir jika terus-terusan pacaran akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Berbeda dengan ayahku yang sempat mengingatkanku bahwa usiaku masih sangat muda untuk menikah. Baiknya aku mengejar cita-cita terlebih dulu. Aku sendiri sudah merasa sangat cocok. Hobi sama, dia sudah bekerja, hanya dua hal itu saja yang kupikirkan. Akupun resign dari tempatku bekerja, tanpa berpikir panjang, mengira semuanya akan baik-baik saja. 

Sesudah setahun menikah dia mulai merasa berhak mengendalikan seluruh kehidupanku karena aku sudah menjadi istrinya. Dia mulai membatasi gerakku. Saat ada perbedaan pendapat, dia mendominasi. Dia selalu bilang bahwa istri harus mengikuti apa kata suami. Tak jarang dia juga membawa-bawa agama agar aku selalu menuruti keinginannya. Aku merasa tidak punya power, karena aku sudah tidak bekerja. 

Masalah makin berat muncul saat lahir anak kedua kami. Sebelum menikah, kami tidak membicarakan tempat tinggal. Kami tinggal di Jakarta, kampung halamanku di Malang. Aku anak tunggal, jika terjadi sesuatu pada kedua orangtuaku hanya aku yang bisa menemani dan membantu. Seteah aku melahirkan anak kedua, suamiku sangat sibuk bekerja sehingga tidak ada yang membantuku mengurus dua anak yang masih kecil.  Atas saran orangtuaku aku tinggal di rumah mereka di Malang sementara waktu agar ada yang membantuku mengurus anak-anak. Tapi suamiku selalu menyuruhku segera pulang sambil mengancam. Dia tidak mau bertemu orangtuaku, hanya mau menjemputku dan langsung pulang. Aku tidak bisa pulang ke rumah bersama kedua anakku ke Jakarta karena masih menyusui. Kebetulan semua anakku lahir melalui operasi Caesar, padahal jarak keduanya hanya setahun. Pemulian operasi yang kedua lebih lama. Bahkan 3 bulan pasca melahirkan, jahitannya ada yang terbuka sampai mengeluarkan darah sehingga membutuhkan perawatan. 

Hubungan LDR itu membuat rumah tangga kami semakin renggang. Suamiku tetap tidak mau mengalah dan tidak peduli pada kondisiku. Dia tidak pernah mengunjungi kami. Kedua keluarga bertemu, tapi keluarganya terus membelanya. Suamiku tetap memaksaku kembali, atau kami bercerai saja. Aku sempat memohon padanya agar menyelesaikan masalah ini bersama karena sudah ada anak-anak, tapi akhirnya aku harus memilih. 

Aku sempat down, tidak bersosialisasi karena statusku yang sudah menjadi single parent. Aku menyalahkan diri sendiri, banyak orang juga menyalahkanku. Apalagi ibuku kemudian meninggal dunia karena Covid, membuat support system-ku hanya ayah dan kedua anakku. 

Baca Juga: Dipaksa Menikah karena Gengsi, Aku Bercerai di Usia 23 Tahun

Tapi banyak cara yang kulakukan agar bisa menyembuhkan diri sendiri, seperti bergabung dengan komunitas, mencari tahu bagaimana cara mendidik anak dan menjaga kesehatan mental anak, dan lain-lain. Kini aku merasa lebih bahagia, tidak ada tekanan mental, sehingga lebih fokus mendidik kedua anakku untuk tumbuh dan berkembang. 

Menikah bukan sebatas keinginan hidup bersama. Pernikahan adalah cinta yang dilandasi tanggungjawab bersama untuk berkembang bersama, bukan perasaan cinta yang mudah datang dan pergi. Jangan menikah saat merasa kesehatan mentalmu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, sebab saat itu kamu hanya memutuskan ingin menikah karena tuntutan emosi pribadi.

Sumber: Sati, 27 tahun, nama disamarkan, karyawan swasta, di Jakarta

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu