Tidak-asal-menikah

Tidak Asal Menikah, Banyak Hal Penting yang Menjadi Pertimbanganku

Cinta & Relasi

Urbanwomen – Namaku Nia, 32 tahun, berprofesi sebagai ibu rumah tangga di Semarang. Ceritaku bermula ketika aku kuliah dan bertemu dengan teman sekelas yang kini menjadi suamiku. Kami saling jatuh cinta dan menjalani hubungan hingga 5 tahun. 

Kami sempat menjalani hubungan jarak jauh (LDR), masa terberat karena sering kali terjadi miskomunikasi. Kondisi keuangan kami juga belum stabil di tahun terakhir kami berpacaran. Kami jadi sering salah paham.  Apa maksudku, tidak sesuai dengan yang dia pikirkan. Kami juga belum punya pekerjaan tetap, padahal kami ingin segera menikah.

Setelah waktu yang cukup lama untuk sama-sama berpikir, akhirnya aku mendatanginya untuk meluruskan segala kesalahpahaman. Kuminta ketegasannya tentang hubungan ini. Dia mau kami tetap melanjutkan. Dia merasa kami sudah cocok dan kenal satu sama lain. 

Aku sendiri yakin menikah dengannya. Kami bisa membicarakan topik apa saja tanpa merasa jenuh, bosan, atau berakhir dengan adu argumen. Aku juga sangat memperhatikan  karakternya sebelum memilih dia sebagai suami. Dia penyabar, baik, tidak pernah kasar padaku. 

Beberapa hal kami lakukan untuk menciptakan hubungan yang sehat. Pertama, komunikasi. Komunikasi yang buruk bisa menghancurkan suatu hubungan dalam waktu singkat. Tak harus setiap saat, sempatkanlah waktu untuk memberi kabar atau sekedar bercerita untuk menciptakan ikatan yang kuat satu sama lain. 

Kedua, menurunkan ego dan bersabar. Hal ini berkaitan dengan proses menerima kekurangan dan kelemahan pasangan yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Diskusi, saling belajar mengungkapkan, dengan  kata-kata yang baik, sopan. Ini membuat aku dan suami saling mengerti.

Ketiga, saling mendukung. Meski sama-sama sibuk kami selalu berusaha hadir untuk satu sama lain. Sebisa mungkin saling membantu. Dari dukungan fisik, suamiku bersedia  membantuku merawat anak sampai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan dukungan morilnya, ketika dia membutuhkan teman curhat, lelah setelah bekerja dia banyak bercerita padaku.

 Keempat, bebas menjadi diri sendiri. Ini tak kalah penting. Banyak sekali orang yang berusaha menjadi orang lain demi menyenangkan pasangan. Tapi tidak pada hubunganku. Selama nyaman dan positif, lakukan apapun yang ingin dilakukan. Tidak pernah saling melarang. 

Sebelum menikah kami juga bicara soal privasi. Ada hal yang sebaiknya pasangan tidak perlu tahu, karena bisa memunculkan kesalahpahaman yang berujung konflik. Lebih baik disimpan sendiri dulu, dan dibicarakan kembali saat sudah mendapatkan momen yang pas dan siap bercerita. 

Baca Juga: 5 Do dan Don’t Dalam Hubungan Sehat

Mengenai rencana masa depan, istri boleh bekerja atau tidak, kalau keduanya bekerja siapa yang menjaga anak, pembagian keuangan rumah tangga seperti apa, tinggal di mana setelah menikah, mau punya anak berapa, pola asuh anak seperti apa, visi dan misi masing-masing apa. Iti untuk menyelaraskan keinginanmu dan pasangan. Jika ada hal tidak sesuai dengan bayanganmu, diskusikan saja sampai ketemu titik tengahnya. Terutama masalah pekerjaan. Jika kamu baru tahu ternyata pasanganmu melarang bekerja setelah menikah itu bisa memicu konflik, menyebabkan stres berkepanjangan yang berdampak pada kelanggengan rumah tangga.

Jadi, menikah memang tidak semudah yang dipikirkan. Banyak hal perlu dipertimbangkan. Perlu pembicaraan lebih mendalam untuk menghindari konflik di kemudian hari.

Sumber: Nia, 32 tahun, di Semarang

Sumber: Nia, 32 tahun, di Semarang

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu