Toxic Relationship, sampai Didiagnosa Gangguan Mental

Toxic Relationship, sampai Didiagnosa Gangguan Mental

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Umurku 23 tahun, pernah terjebak dalam toxic relationship. Mantanku ini suka sekali memutar balikan fakta dan abusive. Saat itu usiaku masih 18 tahun, bertemu dengannya melalui aplikasi dating. Awalnya bertemu, dia lebih sering menceritakan kekurangan mantan-mantannya. Dia juga membanding-bandingkan aku dengan mantannya. Lama-kelamaan kami semakin dekat, berjalan satu minggu dan belum ada status berpacaran dia mengajakku main ke rumah. Selama di perjalanan, dia sering kali membicarakan tentang hal yang dia punya, seperti ayahnya yang merupakan seorang pebisnis dan memiliki motor mewah.

Sebetulnya, sudah terlihat sekali waktu itu jika dia orang yang suka mendominasi. Bodohnya, karena aku sudah suka padanya aku tidak menganggap jika sikapnya itu lama-kelamaan bisa menjadi toxic. Selama berpacaran 3 tahun lamanya, dia sering kali berbuat kasar dan minta maaf berkali-kali. Tiap kali makan di luar, aku harus mengelap semua peralatannya, sendok dan garpu. Jika tidak mau, aku dimarahi dan diancam putus. Aku selalu memohon padanya tiap kali dia ingin memutuskanku. Alasannya, karena kami sudah beberapa kali berhubungan seks. Apalagi, aku sudah tidak memiliki teman karena dia juga menyuruhku untuk menjauhi teman-temanku. Bicaranya sangat kasar, bahkan tiap kali aku melakukan kesalahan meskipun sepele dia selalu mengancam untuk putus. 

Sampai suatu ketika, aku pernah mencoba untuk mengakhiri hidup berkali-kali. Minum pembasmi serangga sampai menyilet – nyilet tangan, itu semua semacam gertakan yang aku lakukan agar dia tidak kasar kepadaku. Karena setiap aku melakukan hal tersebut, dia langsung meminta maaf. Dari situlah orangtuaku mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada hubungan tersebut. Waktu itu aku belum putus dengannya. Mencoba pergi ke psikolog agar kembali normal seperti dulu.

Ketika itu aku didiagnosa memiliki gangguan mental. Aku disarankan untuk menjalani beberapa terapi. Proses penyembuhannya, aku dibina untuk memperhatikan hal kecil di sekitar. Misalnya, ketika aku naik ojek online di situ aku disuruh untuk memperhatikan di bagian helm driver ojek apakah ada bercak warna yang berbeda atau tidak. Tujuannya, untuk mengalihkan pikiranku yang beberapa kali ingin mengakhiri hidup. Kemudian, aku juga melakukan yoga untuk menenangkan pikiran dan ini sangat membantuku.

Selama menjalani terapi tersebut aku mulai membaik. Namun, sesekali kambuh ketika mantan pacarku tersebut kembali memperlakukan aku dengan kasar. Bahkan dia bertengkar dengan orang tuaku. Inilah titik baliknya, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang toxic ini. Aku akui awalnya sangat sulit. Takut sendiri, karena tidak memiliki teman semenjak pacaran dengan dia. Terlebih, aku sudah memberikan semuanya ke dia. Tapi aku memaksakan diri, untuk tetap pergi. Cara agar aku bisa keluar dari keadaan tersebut, dengan menghubungi semua sahabatku dan meminta maaf. Akhirnya mereka mengerti dan justru mencoba menghiburku.

Entah kenapa, ketika mengakhirinya justru seiring berjalannya waktu aku sembuh dengan sendirinya. Aku juga menyempatkan waktu untuk sering menonton Channel YouTube yang membahas seperti apa hubungan yang sehat dan tidak.  Kemudian, aku rajin mencatat poin penting dari setiap video yang aku tonton. Tak hanya dicatat, tapi diterapkan juga ya. Saat ini aku benar-benar selektif memilih pasangan, aku tidak ingin terulang kembali. Ada yang dekat denganku saat ini, tapi aku tidak menerimanya begitu saja hanya karena sayang.

Baca Juga: Selamat Tinggal, Toxic Relationship!

Jika kamu masih terjebak dalam hubungan yang toxic, lepaskan dan belajarlah untuk merelakan ya. Jangan berusaha untuk menjadi pahlawan, karena nantinya mental kalian yang bisa rusak. Begitu aku putuskan untuk pergi, aku merasa sangat hancur. Aku kehilangan diri sendiri. Tapi nyatanya, kehidupanku jauh lebih tenang dan sehat sampai saat ini.

Sumber: Anonim

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu