Ubah Cara Pandang, Kelola Emosi

Ubah Cara Pandang, Kelola Emosi

Kisah Utama

Urbanwomen – Semasa muda saya percaya pada ekspresi emosional. Kesal saya ekspresikan, marah juga saya ekspresikan. Tentunya emosi positif pun saya tunjukan. Saya selalu terlihat sebagai perempuan yang lively banget, banyak teman, mungkin karena hidup saya terlihat seru. 

Namun demikian karier saya sering mentok. Sepertinya susah cari tempat kerja atau mendapat atasan yang mengerti cara saya mengekpresikan kejujuran rasa. Mereka seperti tidak menghargai kejujuran, lebih memilih “damai” dalam konotasi apapun. Walau saya bisa mengerjakan banyak tugas tapi sulit juga kalau kurang bisa diterima oleh rekan kerja dan atasan.

Awalnya saya merasa tidak perlu berubah. Saya bahkan menentang keadaan, dengan alasan kejujuran tadi. Sampai suatu saat saya membaca artikel yang menunjukkan bahwa semua hal bisa dilihat dari sisi negatif maupun positif, dan dari cara pandang kita akan menentukan emosi yang berbeda juga. Saya tertarik mempraktekkannya, dan membuat daftar hal-hal yang biasanya membuat saya marah atau kecewa, dan saya analisa apa saja hal positifnya. Ternyata kalau kita mengambil cukup waktu untuk merenung (sebelum kita berekspresi) kita bisa menemukan banyak hal positif di antara hal-hal yang kita anggap negatif. 

Contoh, marah dan kecewa yang saya rasakan perihal sikap ayah saya. Dia gila kerja, lebih sering berkumpul dengan rekan-rekan bisnis atau bahkan orang-orang yang memuji-muji, nyaris melupakan keluarganya sendiri. Ternyata ada juga hal positifnya bagi saya, beberapa di antaranya saya jadi independen, lebih dewasa, kuat mental, dan kuat daya analisa karena terlatih untuk mengambil keputusan sendiri. Dalam hidup ini sebenarnya saya sudah berbuat lebih banyak hal positif. Seharusnya saya lebih banyak bersyukur ketimbang marah dan kecewa.

Contoh lain, ketika saya tahu mantan pacar saya punya masalah emosi dan kekerasan. Ketika itu saya kecewa sekali. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, memang itu sifat aslinya. Saya seharusnya bersyukur dia segera menunjukkan sifat-sifat itu sehingga saya tidak harus buang-buang waktu berpacaran dengannya.

Ya, saya belajar bahwa yang benar adalah bukan menekan perasaan perasaan negatif supaya terlihat positif. Itu palsu namanya. Saya hanya harus dapat mengubah cara pandang, mengubah “masalah” menjadi “keberuntungan”. Dengan jalan ini saya tetap bisa ekspresif, jujur, secara positif karena semua hal dilihat dari sudut pandang yang baik.

Syarat dari pola pikir demikian adalah berpikir sebelum bereaksi. Itu saja. Temperamen saya banyak berubah, menjadi lebih tenang dan positif, karena saya membiasakan melihat dari sudut pandang positif setiap kejadian. Hasilnya benar2-benar tidak saya sangka. Orang-orang di tempat kerja yang tadinya resisten terhadap saya bisa membuka diri, bahkan menghormati saya. Kesempatan satu dan lainnya satu per satu terbuka. Bekerja menjadi jauh lebih mudah dan menyenangkan.

Baca Juga: 5 Kecerdasan Emosional yang Berguna untuk Mendukung Karirmu

Bukan berarti saya lantas tidak pernah negatif.  Sesekali pasti pernah. Tapi  frekuensinya jauh lebih sedikit dan mood saya sekarang jauh lebih enak. Kalau kita tidak meledak-ledak, kita bisa menganalisa situasi dengan baik dan mencari solusi, ketimbang sekadar meluapkan perasaan. Masalah yang sama akan datang lagi. Dengan lebih berpikir sebelum bereaksi saya punya waktu untuk menganalisa.  Hubungan pertemanan pun jadi lebih enak. Less drama. Hidup lebih tenang, lebih produktif, dan pastinya lebih bisa menjaga diri lebih baik dari situasi-situasi yang tidak diinginkan, dan lebih mawas diri. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu